Rabu, 08 Januari 2014

Makalah TAPLN haha

Pendahuluan
            Berakhirnya Perang Dunia II, telah membawa perubahan besar dalam pola-pola hubungan antarnegara salah satu nya yaitu muncul nya organisasi kerjasama antar Negara seperti Uni Eropa atauEuropean Union (EU) di Eropa. Dengan tujuan awal untuk meningkatkan ekonomi guna membayar kerugian yang diakibatkan oleh Perang Dunia II, kerjasama tersebut berkembang menjadi sebuah pasar tunggal di Eropa.Dalam pasar tunggal Eropa tersebut terdapat pergerakan bebas baik barang, jasa, maupun modal diantara Negara anggotayang disebut sebagai common market.Uni Eropa bahkan menetapkan Euro sebagai mata uang bersama (common currency).Kebijakan bersama Uni Eropa sangat terlihat pengaruhnya di bidang ekonomi, meskipun dalam beberapa kasus, keputusan-keputusan Uni Eropa masih memberikan pengecualian untuk tidak ditaati karena kondisi-kondisi khusus yang dialami negara anggota.[1]Misalnya kebijakan penggunaan mata uang tunggal euro yang belum dipenuhi oleh semua negara anggota.Dalam hal ini tidak semua anggota Uni Eropa menggunakan mata uang Euro sebagai mata uang nasional negaranya. Terdapat 17 dari 28 negara anggota Uni Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uang resmi negaranya, sedangkan 11 negara lain masih mempertahankan mata uang masing-masing sebagai mata uang resmi Negara nya.
Setelah perang dunia II berakhir, Inggris tercatat sebagai Negara pemenang perang diantara Negara Negara Benua Eropa lainnya.[2] Inggris juga tidak mengalami kerusakan berat yang ditimbulkan pasca perang namun meskipun sudah memiliki posisi yang kuat, Inggris tetap menyerahkan kedaulatannya dengan menjalin kerja sama dan bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 1973. Meskipun Inggris merupakan anggota Uni Eropa yang berperan serta dalam menciptakan integrasi secara ekonomi, politik, dan sosial, tetapi menjadi menarik dimana Inggris memiliki kebijakan tidak mengadopsi Euro sebagai mata uang nasionalnya.
Berkaitan dengan hal tersebut,  makalah ini membahas mengenai kebijakan Luar Negeri Inggris terhadap penolakan penggunaan mata Uang Euro. Dalam mengkaji masalah ini, konsep yang digunakan adalah konsep actor rasional, dimana akan dianalisis mengenai alternative kebijakan yang dapat di ambil oleh Inggris dan kalkulasi untung rugi dari masing- masing alternative kebijakan tersebut serta hubungan Inggris dengan Uni Eropa berdasarkan alternative kebijakan yang diambil.
Inggris
Negara Inggris atau nama resminya The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland merupakan negara yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Inggris sendiri merupakan satu negara kesatuan yang diperintah dibawah sebuah monarki konstitusional dan sistem parlementer, dimana sistem pemerintahan berada di ibukota London. Kerajaan Inggris terdiri dari empat negara: Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales. Negara Kosmopolitan ini memiliki 62 juta penduduk.Ada banyak penduduk yang menempati United Kingdom, yang membuat perbedaan di United Kingdom dan membuat pandangan terbuka tentang multi kultural.Inggris adalah negara yang berkembang pesat dan merupakan negara perekonomian terbesar keenam di dunia dari nominal Produk Domestik Bruto (PDB) dan negara perekonomian terbesar ketujuh dari keseimbangan kekuatan pembelian.
Inti dari Diplomasi negara Inggris ditekankan kepada tiga hal, yaitu sebagai berikut:[3]
1.      Hubungan Bilateral yang paling penting bagi negara inggris sendiri adalah dengan pemerintahan Amerika Serikat.
2.      Negara Inggris adalah Negara Uni Eropa yang Committed.
3.      Peranannya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan sebagai anggota Commonwealth.

Uni Eropa
Uni Eropa adalah organisasi regional yang dibentuk negara-negara yang ada dalam kawasan benua Eropa.Ini sejalan dengan salah satu syarat anggota Uni Eropa yaitu negara yang bersangkutan secara geografis harus berada dalam lingkup benua Eropa.Dari segi budaya, negara-negara Eropa pada umumnya memiliki budaya yang seragam yaitu budaya liberalis-kapitalis.Hal inilah yang mendorong negara menjalin kerjasama dengan negara Eropa lainnya lewat perdagangan antarnegara karena setiap negara saling membutuhkan.Atas dasar itulah negara-negara Eropa membentuk suatu organisasi regional bernama European Union (EU) atau Uni Eropa.[4]Uni Eropa sebagai sebuah organisasi regional di kawasan Eropa yang telah mencakup berbagai bidang, juga memiliki beragam bentuk kebijakan.Dimana pada awal pembentukannya, hanya bidang ekonomi dan politik sebagai base dimention.Lewat perkembangannya, Uni Eropa memperluas bidang cakupannya ke bidang-bidang lainnya seperti bidang sosial, hukum, pertahanan keamanan, dan politik luar negeri.Contoh kebijakan Uni Eropa dalam bidang sosial adalah pemerataan pembangunan untuk mempercepat pertumbuhan wilayah terbelakang (most disadvantages areas) di kawasan Uni Eropa maupun di negara berkembang bukan anggota Uni Eropa yang diatur dalam Perjanjian Maastricht pasal 130u (1) title XVII tentang Development Cooperation.[5]Uni Eropa mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan bantuan ekonomi terhadap negara-negara anggotanya yang belum maju dan juga kepada negara-negara berkembang, meskipun prioritasnya ditekankan pada bantuan terhadap negara miskin.Tetapi sudah menjadi kesepakatan mereka untuk mengaitkan bantuan itu sejalan dengan bantuan terhadap pengembangan demokrasi, HAM, dan kebebasan fundamental lainnya sebagaimana diatur dalam ayat 2 pasal ini.

Peranan Inggris di Eropa
Pengaruh yang paling besar terlihat dalam penyebaran bahasa Inggris di berbagai wilayah di seantero dunia.Saat ini bahasa Inggris merupakan bahasa utama bagi lebih dari 400 juta penduduk di dunia dan dituturkan oleh sekitar satu setengah miliar orang sebagai bahasa pertama, kedua atau bahasa internasional.Penyebaran bahasa Inggris sejak paruh kedua abad ke-20 juga turut dibantu oleh pengaruh budaya Amerika Serikat, yang awalnya juga terbentuk dari koloni Inggris[6].Inggris merupakan negara Eropa Barat yang menjadi “jangkar” bagi Uni Eropa, baik dari segi ekonomi, politik dan keamanannya. Kekuatan Inggris sudah tidak bisa dipungkiri lagi, bahkan salah seorang penstudi geopolitik Amerika Serikat, Alferd Mahan berpendapat bahwa untuk menguasai dunia hendaklah menguasai lautan, seperti apa yang sudah dilakukan oleh Inggris. Pada saat ini, Inggris memiliki kontribusi penuh terhadap keamanan dunia internasional, karena itu Inggris menjadi anggota tetap DK PBB, Uni Eropa serta NATO (Anon, 2008).Inggris memiliki wilayah yang terpisah dengan wilayah Eropa lainnya, yakni berupa kepulauan yang luas.Kebijakan geostrategi yang diterapkan Inggris berbasiskan pada teori Alfred T. Mahan mengenai sea power, dimana negara ini berupaya memaksimalkan dan menguasai wilayah laut.Konsep sea power ini dilakukan untuk menguasai sektor perdagangan yang dahulunya kerap menggunakan laut sebagai instrumennya.Inggris juga membagun basis angkatan laut yang kuat. Kebijakan geopolitik yang sea-oriented ini dilakukan Inggris karena ia sadar bahwa laut adalah instrumen yang paling tepat untuk mempertahankan keamanan dan ketahanan negaranya, mengingat Inggris adalah negara kepulauan. Ekspansi ke wilayah lain pun gencar dilakukan demi mengeksploitasi sumber daya alam dan menguasai pasar.
Sebelum mengalami krisis, Inggris adalah hegemon.AS dan Inggris memiliki aliansi yang sangat kuat hingga kini.Sebagai eks-hegemon, kekuatan Inggris masih diperhitungkan dalam konstelasi internasional. Hal ini bisa dilihat dari tekad Inggris untuk tetap menggunakan mata uang poundsterling meskipun negara Uni Eropa lainnya telah memberlakukan Euro sebagai mata uang  bersama. Inggris juga tidak terlibat dalam penandatanganan Perjanjian Schengen tahun 1985, meskipun pada tahun 2000 ia akhirnya bergabung dengan Schengen dalam aspek kriminalitas, pemberantasan obat-obatan terlarang, dan Schengen Information System. Bergabungnya Inggris ini adalah demi mencapai tujuannya untuk memelihara stabilitas keamanan domestik dari ancaman kejahatan transnasional (Europa, 2009)[7].Inggris juga termasuk dalam Big Three di Uni Eropa bersama Perancis dan Jerman.

Peranan Inggris dalam Uni Eropa
Inggris merupakan anggota Uni Eropa meskipun tidak secara internal benar-benar terlibat langsung dalam proyeksi dan pengambilan kebijakan dan keputusan dalam Uni Eropa.Inggris tidak termasuk kedalam zona yang dilingkupi dalam Kesepakatan Schengen (1985).Inggris juga salah satu dari beberapa negara anggota Uni Eropa yang tidak memakai Euro sebagai mata uangnya.Ketika mata uang negara maju lain jatuh ke dalam Euro, seperti Franch dan Gulden, Inggris dengan Poundsterlingnya masih menunjukkan dominasi yang kuat di Eropa maupun dunia internasional. Dalam Uni Eropa, Inggris memainkan peran yang cenderung memihak kebijakan Amerika Serikat, hal ini dikarenakan kedekatan politis sebagai sekutu Amerika Serikat. Selain itu Sebagai “jangkar” Uni Eropa, Inggris melakukan geostrategi dengan menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat agar kestabilan ekonomi domestik mereka tercapai, yang akan berimbas juga ke Uni Eropa. Berbeda dengan Perancis, yang politik luar negerinya tidak benar-benar memihak Amerika Serikat, terkadang sangat berlawanan.Inggris memiliki posisi yang sangat kuat di Uni Eropa, hal ini dibuktikan dalam masih bertahannya Poundsterling di kancah dunia moneter internasional.Inggris juga merupakan salah satu sumber pendanaan dari separuh anggaran EU[8]. Kebijakan Uni Eropa juga tidak terlepas dari adanya peran tiga negara besar Eropa, yakni Perancis, Inggris, dan Jerman (Big Three),  dimana setiap isu yang hadir dalam Uni Eropa merupakan negosiasi politik ketiga negara tersebut.

Politik Luar Negeri Inggris
Kebijakan politik luar negeri Inggris dijalankan oleh Kementerian Luar Negeri yang disebut Foreign and Commonwealth Office dipusatkan ke kawasan Eropa khususnya Uni Eropa.Namun kebijakan kerjasama pembangunan internasional utamanya ditujukan kepada negara-negara miskin di kawasan Afrika dan Asia Selatan.Isu yang menjadi agenda prioritas Pemerintahan Inggris pada saat ini adalah perjuangan melawan pemanasan global.
Prinsip kebijakan politik luar negerinya adalah Ethical Foreign Policy. Garis besar kebijakan politik luar negeri UK di bawah Pemerintahan Buruh seperti dituangkan dalam Mission Statement menjabarkan empat sasaran polugri UK yaitu: Keamanan, Kemakmuran, Peningkatan Kualitas Hidup dan Penghargaan Timbal Balik (mutual respect).Dua kebijakan penting Pemerintah UK berkaitan dengan penerapan Ethical Foreign Policy adalah:(1) penentuan kriteria yang lebih ketat untuk ekspor senjata dan (2) peninjauan terhadap berbagai instrumen kebijakan HAM internasional untuk digunakan sebagai wahana mempromosikan dan memajukan penghargaan terhadap HAM di seluruh dunia. Selain itu dalam upaya untuk mempromosikan HAM, Pemerintah UK akan bekerja sama dengan berbagai NGOs yang bergerak di bidang HAM.[9]
Untuk mencapai keempat sasaran tersebut, maka strategi yang ditempuh adalah: menjadikan UK sebagai pelaku utama di panggung Eropa, memperkuat Commonwealth, memanfaatkan status sebagai anggota tetap DK – PBB dalam menggalang aksi-aksi internasional yang lebih efektif serta memerangi kemiskinan, mendukung diplomasi publik melalui British Council dan BBC World Service, dan memperkuat hubungan bilateral dengan seluruh kawasan di dunia.

Alasan Inggris menolak penggunaan mata uang Euro
            Secara teori, monetary union dianggap mampu memecahkan masalah. Hal ini didasarkan pada persepsi dimana sebuah mata uang tunggal akan membuat pasar Eropa menjadi lebih efisien dan ekonomi Eropa lebih dinamis. Dalam perjalanannya, Uni Eropa berkembang  menjadi satu kekuatan baru yang disegani masyarakat internasional karena kemampuannya dalam mengintegrasikan anggotanya kedalam kebijakan bersama, namun dari 28 anggota, baru 17 negara yang resmi memakai euro sebagai mata uang negaranya, sedangkan sebelas negara lainnya yang belum menggunakan mata uang Euro (Zona Non Euro) salah satu nya yaitu Inggris. Berkaitan dengan hal tersebut, adapun alasan Inggris tetap mempertahankan Poundsterling sebagai mata uang resmi negaranya yaitu diantaranya:
a.                   Perdebatan actor berpengaruh di Inggris mengenai Euro
Inggris sebagai negara yang berkontribusi dalam bidang ekonomi dapat juga dikatakan sebagai Negara yang tergolong melakukan penolakan terhadap kebijakan Uni Eropayaitu Inggris tidak mengadopsi Euro sebagai mata uang negaranya.Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh pro dan kontra actor berpengaruh di Inggris terhadap masalah mata uang ini.
Conservative Party beranggapan bahwa dengan mengadopsi Euro sebagai mata uang, maka Inggris akan kehilangan kontrol terhadap suku bunga. Jika suku bunga terlalu tinggi untuk pasar Inggris, maka akan menghalangi public investment dan berakibat mengurangi kemampuan pasar untuk berkompetisi (less competitive market) yang berarti semakin sedikit perusahaan yang ada dan semakin banyak yang akan kehilangan pekerjaan (unemployment). Dengan banyaknya unemployment, pemerintah harus meningkatkan pengeluaran publik untuk keamanan sosial, dan dengan meningkatnya pengeluaran publik, pemerintah Inggris akan meningkatkan pajak.[10]
Selain pihak yang kontra, terdapat pihak yang pro terhadap kebijakan penggunaan mata uang Euro yaitu salah satunya Labour government, dimana labour government berpendapat bahwa sebagai anggota Uni Eropa, Inggris harus mengadopsi Euro karena perusahaan Inggris akan dapat menikmati biaya transaksi yang lebih sedikit dalam Eurozone dan dengan Euro akan mendorong perdagangan lintas Negara serta konsumer akan menikmati produk dengan harga yang lebih murah.[11]
b.                  Kepercayaan terhadap Poundsterling
Inggris yakin poundsterling tetap akan menjadi mata uang kuat dunia (hard currency) yang bisa bertahan terhadap segala goncangan krisis ekonomi dan moneter. Misalnya saja Krisis Yunani yang terjadi saat ini sangat mempengaruhi mata uang Euro.Inggris yang menggunakan poundsterling tidak terlalu mendapat dampak yang signifikan seperti yang dialami negara-negara Eurozone.[12]
Selain itu, mata uang poundsterling sudah ada sekitar 1200 tahun lalu, jauh lebih lama dibandingkan mata uang lainnya bahkan mata uang negara-negara yang sekarang bergabung dalam Eurozone. Poundsterling juga merupakan mata uang tertua dunia yang masih dipakai.[13]Dalam hal ini, rakyat Inggris tidak ingin poundsterling yang merupakan suatu kebanggan, lenyap begitu saja.lnggris punya alasan bahwa poundsterling tidak hanya sekadar mata uang bagi Inggris, tetapi juga kebanggaan Imperium Inggris, yakni Britania Raya.
c.                   Merkantilisme Inggris dalam Uni Eropa
Inggris menerapkan peraturan-peraturan yang bersifat merkantilis yang berusaha membuat negaranya untung dan secara tidak langsung merugikan negara lain, atau dikenal dengan istilah zero-sum game. Merkantilisme dalam hal ini merupakan suatu cita-cita organisasi ekonomi yang dijalankan pemerintah.[14]
Teori merkantilisme menyatakan dengan jelas bahwa negara adalah aktor utama, segala hal dilakukan demi mencapai kepentingan nasionalnya.Inggris dan negara-negara lain di dunia saling berkompetisi untuk mendapatkan power dan kekayaan (wealth) yang merupakan dasar dari power tersebut. Inggris menyadari bahwasanya integrasi ekonomi akan menghalangi pencapaian kepentingan nasional dan mengurangi kontrol negara di bidang dometik. Pada titik tertentu, risiko masing-masing negara anggota adalah dipaksa untuk mengabaikan kepentingan nasional-politik, ekonomi, sosial, atau budaya - sebagai konsekuensi dari mempertahankan kewajiban internasional.[15]Oleh karena itu Inggris sangat defensive terhadap kebijakan Uni Eropa yaitu penyeragaman kebijakan moneter dan fiskal dimana Euro diluncurkan sebagai mata uang tunggal.

Model Aktor Rasional
            Dalam model ini, politik luar negeri dipandang sebagai akibat dari tindakan actor rasional, terutama suatu pemerintahan yang monolit, yang dilakukan dengan sengaja untuk mencapai suatu tujuan. Pembuatan keputusan luar negeri digambarkan sebagai suatu proses intelektual. Perilaku pemerintah dianalogikan dengan perilaku individu yang bernalar dan terkoordinasi.Dalam analogi ini individu melalui serangkaian tahap-tahap intelektual dengan menerapkan penalaran yang sungguh-sungguhmenerapkan pilihan atas alternative-alternatif yang ada.Jadi, unit analisis pembuatan keputusan ini adalah pilihan-pilihan yang diambil oleh pemerintah.Dengan demikian, analisis politik luar negeri harus memusatkan perhatian pada penelaahan kepentingan nasional dan tujuan dari suatu bangsa, alternative-alternatif haluan kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintahnya dan perhitungan untung rugi dari masing-masing alternative itu.[16]

Analisis terhadap kepentingan nasional serta alternative kebijakan Inggris
Inggris merupakan negara yang memiliki ekonomi kuat di Eropa.Berkaitan dengan isu ekonomi, kebijakan Inggris yang menolak penggunaan mata uang tunggal Euro sebagai mata uang mereka merupakan suatu hal yang menarik untuk dibahas.
Tujuan suatu Negara dalam kebijakan luar negeri salah satunya adalah memastikan kelangsungan negaranya dimana terdapat perhitungan strategis. Dalam hal ini adapun kepentingan nasional Inggris dalam Uni Eropa  dalam hal ini terlihat jelas dan Inggris menjaga kepentingan nasionalnya dengan tidak melakukan integrasi ekonomi yaitu dengan tidak mengadopsi Euro karena Inggris tidak ingin kehilangan otonomi politik dan ekonomi di wilayah nya sendiri karena penginegrasian ekonomi dinilai dapat mengurangi kontrol negara di bidang dometik. Dalam hal ini, Inggris sama sekali tidak ingin pihak luar ikut camput dalam urusan domestiknya dan melanggar kedaulatan yang dimiliki meskipun secara tidak langsung melalui ekonomi dan mata uang tunggal.
Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat beberapa alternative kebijakan yang dapat diambil Inggris yaitu pertama, bergabung dengan pengintegrasian ekonomi Uni eropa dengan menggunakan mata Uang Euro sebagai mata uang nasionalnya atau kedua, tidak menggunakan mata uang Euro dengan tetap mempertahankan Poundsterling sebagai mata uang nasionalnya.

Analisis kalkulasi untung rugi alternative kebijakan Inggris
Dalam hal ini konsep actor rasional menjadi konsep yang digunakan. Berkaitan dengan hal tersebut, akan di analisis kebijakan tersebut berdasarkan tindakan rasionalnya yang menyangkut kalkulasi keuntungan dan kerugian dari alternative kebijakan Inggris tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut adapun alternative kebijakan pertama yaitu Inggris menggunakan mata uang Eurosebagai mata uang nasionalnya, maka berdasarkan analisis konsep actor rasional, keuntungan yang didapat jika Inggris bergabung dalam Eurozone (menggunakan mata uang Euro) adalah Inggris akan  mendapatkan keuntungan jangka panjang, selain itu perusahaan Inggris akan menikmati biaya transaksi yang lebih sedikit dalam Eurozone sehingga dapat menarik investasi dan kegiatan ekonomi lainnya dan dengan mata uang tunggal, tidak ada lagi volatilitas nilai tukar sehingga Euro akan mendorong perdagangan lintas negara  dan  konsumer akan menikmati produk dengan harga yang lebih murah.
Selain keuntungan, dalam menggunakan konsep actor rasional juga perlu dianalisis mengenai alternative kebijakan dimana kerugian apabila Inggrismenggunakan mata uang Euro yaitu resiko terhadap stabilitas dalam negeri Inggris dimana hal tersebut dipengaruhi oleh krisis Yunani yang berdampak sistemik dan menyebabkan efek domino ke banyak Negara.Dalam hal ini, Euro masih harus menanggung krisis ekonomi yang terjadi akibat ketidaksiapannya Negara Negara eropa timur dalam mengadopsi mata uang tunggal Euro seperti krisis yang terjadi di Yunani tersebut.Selain itu perbedaan kepentingan nasional Inggris dengan kebijakan yang telah disepakati dalam integrasi Uni Eropa menyebabkan Inggris tidak ingin terjebak dalam kondisi nilai tukar mata uang Euro yang masih belum stabil. Tidak hanya itu, Jika Inggris mengadaptasi Euro maka akan membuat usaha kecil membayar biaya tambahan.
Pada dasarnya inggris adalah negara besar yang juga menjadi penyeimbang/balancer di uni eropa. Negara yang politik dan ekonominya relatif lebih stabil dibandingkan negara anggota uni eropa lainnya, namun keputusan Inggris yang  tidak menggunakan mata uang euro seperti anggota uni eropa lainnya menjadi perhatian baik di kalangan negara anggota maupun dalam kalangan internasional. Adapun mengingat keuntungan yang didapat dari alternative kebijakan tidak menggunakan Euro adalah perekonomian Inggris menjadi lebih stabil dengan poundsterling karena Inggris dapat mengatur kebijakan moneternya sendiri tanpa terikat oleh kebijakan moneter Uni Eropa selain itu Inggris juga tidak perlu terlalu menghawatirkan nilai Euro yang jatuh akibat krisis yunani karena Poundsterling sebgai mata uang Inggris dianggap dapat lebih bertahan terhadap segala goncangan krisis ekonomi dan moneter daripada Euro.Sehingga inggris tidak ingin mempertaruhkan mata uangnya dengan euro. Inggris juga mengkawatirkan akan dampak yang merugikan jika inggris menggunakan euro maka akan mempengaruhi di segala sudut perekonomian inggris
Selain keuntungan, juga terdapat kerugian dari alternative kebijakan Inggris tidak menggunakan Euro yaitu hubungan antara Inggris dan Uni Eropa agak renggang karena Inggris tergolong salah satu Negara yang banyak menentang kebijakan Uni Eropa.
Berkaitan dengan alternative kebijakan yang kedua, hal tersebut tentu juga akan berdampak pada hubungan Inggris dan Uni Eropa dimana jika Inggris tidak menggunakan mata uang Euro dimana posisi Inggris berasa pada posisi yang dilematis. Disatu pihak integrasi di bidang keamanan dan politik memberikan keuntungan, namun disisi lain yaitu ekonomi memberikan kerugian.Selain itu, Inggris yang sampai saat ini tidak bersedia menggunakan mata uang Euro, pernah terlibat friksi dengan Uni Eropa terkait kebijakan ekonomi.[17] Demikian penggalan berita yang di publish pada salah satu media online. Dari pemberitaan tersebut dapat kita pahami bahwa penolakan Inggris terhadap penggunaan mata uang bersama dinilai menciderai cita-cita bersama bagi para anggota Uni Eropa.Jelas bahwa tujuan adanya Uni Eropa adalah untuk mencapai kepentingan bersama yaitu kesejahteraan yang merata bagi para anggotanya. Namun sikap Inggris yang menolak menggunakan mata uang bersama, bahkan ada wacana untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa saat Uni Eropa dalam keadaan krisis seakan memperlihatkan wajah asli Inggris yang lebih mementingkan kepentingan nasionalnya dibandingkan kepentingan bersama.
Kesimpulan
Inggris merupakan Negara anggota Uni Eropa yang meskipun tidak secara internal benar-benar terlibat langsung dalam proyeksi dan pengambilan kebijakan dan keputusan dalam Uni Eropa, namun Inggris memiliki posisi yang sangat kuat di Uni Eropa, hal ini dibuktikan dalam masih bertahannya Poundsterling di kancah dunia moneter internasional. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam perjalanannya, Uni Eropa berkembang  menjadi satu kekuatan baru yang disegani masyarakat internasional karena kemampuannya dalam mengintegrasikan anggotanya kedalam kebijakan bersama, namun dari 28 anggota, baru 17 negara yang resmi memakai euro sebagai mata uang negaranya, sedangkan sebelas negara lainnya yang belum menggunakan mata uang Euro (Zona Non Euro) salah satu nya yaitu Inggris. Berkaitan dengan hal tersebut, adapun alasan Inggris tetap mempertahankan Poundsterling sebagai mata uang resmi negaranya yaitu diantaranya perdebatan actor berpengaruh di Inggris mengenai Euro, kepercayaan rakyat Inggris terhadap poundsterling dan merkantilisme Inggris dalam Uni Eropa.
Sebagai negara yang memiliki ekonomi kuat di Eropa, kebijakan Inggris yang menolak penggunaan mata uang tunggal Euro sebagai mata uang mereka merupakan suatu hal yang menarik untuk dibahas.Dalam hal ini konsep actor rasional menjadi konsep yang digunakan.dimana akan di analisis kebijakan tersebut berdasarkan tindakan rasionalnya yang menyangkut kalkulasi keuntungan dan kerugian dari alternative kebijakan Inggris tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut adapun alternative kebijakan pertama yaitu Inggris menggunakan mata uang Euro sebagai mata uang nasionalnya, maka berdasarkan analisis konsep actor rasional, keuntungan yang didapat jika Inggris bergabung dalam Eurozone (menggunakan mata uang Euro) adalah Inggris akan  mendapatkan keuntungan jangka panjang, selain itu perusahaan Inggris akan menikmati biaya transaksi yang lebih sedikit dalam Eurozone sehingga dapat menarik investasi dan kegiatan ekonomi lainnya dan dengan mata uang tunggal, tidak ada lagi volatilitas nilai tukar sehingga Euro akan mendorong perdagangan lintas negara  dan  konsumer akan menikmati produk dengan harga yang lebih murah.
Selain keuntungan, dalam menggunakan konsep actor rasional juga perlu dianalisis mengenai alternative kebijakan dimana kerugian apabila Inggris menggunakan mata uang Euro yaitu resiko terhadap stabilitas dalam negeri Inggris dimana hal tersebut dipengaruhi oleh krisis Yunani yang berdampak sistemik dan menyebabkan efek domino ke banyak Negara.
Selain itu, berkaitan dengan alternative kebijakan kedua, kebijakan Inggris tidak menggunakan Euro adalah perekonomian Inggris menjadi lebih stabil dengan poundsterling karena Inggris dapat mengatur kebijakan moneternya sendiri tanpa terikat oleh kebijakan moneter Uni Eropa serta Inggris juga tidak perlu terlalu menghawatirkan nilai Euro yang jatuh akibat krisis yunani karena Poundsterling sebgai mata uang Inggris dianggap dapat lebih bertahan terhadap segala goncangan krisis ekonomi dan moneter daripada Euro.
Selain keuntungan, juga terdapat kerugian dari alternative kebijakan Inggris tidak menggunakan Euro yaitu hubungan antara Inggris dan Uni Eropa agak renggang karena Inggris tergolong salah satu Negara yang banyak menentang kebijakan Uni Eropa.
Berkaitan dengan alternative kebijakan yang kedua, hal tersebut tentu juga akan berdampak pada hubungan Inggris dan Uni Eropa dimana jika Inggris tidak menggunakan mata uang Euro dimana posisi Inggris berasa pada posisi yang dilematis. Disatu pihak integrasi di bidang keamanan dan politik memberikan keuntungan, namun disisi lain yaitu ekonomi memberikan kerugian.
Jelas bahwa tujuan adanya Uni Eropa adalah untuk mencapai kepentingan bersama yaitu kesejahteraan yang merata bagi para anggotanya. Namun sikap Inggris yang menolak menggunakan mata uang bersama, bahkan ada wacana untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa saat Uni Eropa dalam keadaan krisis seakan memperlihatkan wajah asli Inggris yang lebih mementingkan kepentingan nasionalnya dibandingkan kepentingan bersama.







Daftar Pustaka
Mochtar Mas’oed. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, Jakarta: LP3ES.

Hardjosoebroto, S. 1976.Pengantar Sejarah Perekonomian Dunia: Akhir Abad Pertengahan Sampai Perang Dunia II. Yogyakarta: BPFE.

Balaam, D. N and Veseth, M. 2001.Introduction to International Political Economy. New Jersey: Upper Saddle River.

Sukardi, S. 2005. Ten Actors Blowing Their Trumpets: Understanding a Constellation for the Labour Government to Secure the Euro Adaptation.

David Crystal. English Worldwide

Uni Eropa, dalam http://www.docstoc.com/docs/42936005/uni-eropa, diakses tanggal 13 Desember 2013

The Moment of British Nasionalism, dalam http://www.britishcouncil.org/studies/england/report_5.htm diakses tanggal 13 Desember 2013

Nugroho, Usulan Mata Uang Tunggal ASEAN, Suara Merdeka 27 September 2005, dalam http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/27/opi04.htm diakses tanggal 13 Desember 2013

Rendall, R. Economic Terms Explained, BBC News, 12 November 2007, dalam http://news.bbc.co.uk/2/hi/programmes/bbc_parliament/7090665.htm diakses tanggal 13 Desember 2013

Summaries of EU Legislation: Justice, Freedom and Security, dalam http://europa.eu/legislation_summaries/justice_freedom_security/free_movement_of_persons_asylum_immigration/l33020_en.html  di akses tanggal 27 desember 2013

Moody’s Turunkan Peringkat Prospek Uni Eropa, dalam http://www.voaindonesia.com/content/moodys-turunkan-peringkat-prospek-uni-eropa/1501059.html di akses tanggal 27 desember 2013

Inggris dan Rencana Keluar dari Uni Eropa,dalam http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/yzR7/content/inggris-dan-rencana-keluar-dari-uni-eropa/pop_up diakses pada 3 januari 2014


Profil Negara dan Kerja Sama Inggris, dalam http://www.kemlu.go.id/london/Pages/CountryProfile.aspx?IDP=3&I=id diakses tanggal 4 Januari 2014
F Sarira.Kebijakan Uni Eropa Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi, dalam http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/2293/G%20(SKRIPSI).docx?sequence=7 diakses tanggal 13 Desember 2013
Meita Istianda, 2000 Aspek Ekonomi dan Aspek Politik dalam Perjanjian Maastricht. Thesis-S2, Universitas Indonesia, Jakarta, hal.42




[1]Uni Eropa, dalam http://www.docstoc.com/docs/42936005/uni-eropa, diakses tanggal 13 Desember 2013
[2]The Moment of British Nasionalism, dalam http://www.britishcouncil.org/studies/england/report_5.htm diakses tanggal 13 Desember 2013
[3] Profil Negara dan Kerja Sama Inggris, dalam http://www.kemlu.go.id/london/Pages/CountryProfile.aspx?IDP=3&I=id diakses tanggal 4 Januari 2014
[4]F Sarira.Kebijakan Uni Eropa Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi, dalam http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/2293/G%20(SKRIPSI).docx?sequence=7 diakses tanggal 13 Desember 2013
[5] Meita Istianda, 2000 Aspek Ekonomi dan Aspek Politik dalam Perjanjian Maastricht. Thesis-S2, Universitas Indonesia, Jakarta, hal.42
[6]David Crystal, English Worldwide. hal. 424 chapter 9
[7]Summaries of EU Legislation: Justice, Freedom and Security, dalam http://europa.eu/legislation_summaries/justice_freedom_security/free_movement_of_persons_asylum_immigration/l33020_en.html  di akses tanggal 27 desember 2013
[8]Moody’s Turunkan Peringkat Prospek Uni Eropa, dalamhttp://www.voaindonesia.com/content/moodys-turunkan-peringkat-prospek-uni-eropa/1501059.html di akses tanggal 27 desember 2013
[9]Profil Negara dan Kerja Sama Inggris, dalam http://www.kemlu.go.id/london/Pages/CountryProfile.aspx?IDP=3&I=id diakses tanggal 4 Januari 2014
[10] Sukardi, S. Ten Actors Blowing Their Trumpets: Understanding a Constellation for the Labour Government to Secure the Euro Adaptation. 2005, hal 4
[11] Ibid hal 10
[12] Nugroho, Usulan Mata Uang Tunggal ASEAN, Suara Merdeka 27 September 2005, dalam http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/27/opi04.htm diakses tanggal 13 Desember 2013
[13] Rendall, R. Economic Terms Explained, BBC News, 12 November 2007, dalam http://news.bbc.co.uk/2/hi/programmes/bbc_parliament/7090665.htm diakses tanggal 13 Desember 2013
[14]Hardjosoebroto, S. Pengantar Sejarah Perekonomian Dunia: Akhir Abad Pertengahan Sampai Perang Dunia II. Yogyakarta: BPFE. 1976, hal 7
[15]Balaam, D. N and Veseth, M. Introduction to International Political Economy. New Jersey: Upper Saddle River, 2001, hal 236
[16] Mochtar Mas’oed. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, Jakarta: LP3ES, 1990, hal 234

[17] Inggris dan Rencana Keluar dari Uni Eropa, dalamhttp://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/yzR7/content/inggris-dan-rencana-keluar-dari-uni-eropa/pop_up diakses pada 3 januari 2014