Seperti yang kita
ketahui bahwa Asia Selatan merupakan wilayah yang rawan terhadap konflik
ketegangan politik. Dan India sebagai Negara terbesar dengan secara geografis
telah berpengaruh mengembangkan perbedaan dengan sebagian besar Negara tetangganya
yang lebih kecil. Ketegangan-ketegangan cenderung muncul kembali secara periodic
dan tidak mengijinkan suasana saling percaya didalamnya. Dengan adanya
ketegangan ini, sebuah laporan Uni Eropa menyimpulkan bahwa tingkat resiko
politik dalam konteks investasi perdagangan di Asia Selatan termasuk tinggi. Dan
dengan adanya laporan ini hanya menampilkan dua anggota SAARC (South Asia
Agrement Regional Cooperation) dengan resiko politik terkecil. Yaitu Maladewa
dan Bhutan. Negara-negara lain dianggap rapuh, dengan nilai rata-rata
stabilitas jauh di bawah rata-rata global.
Aspek-aspek yang perlu
dicatat adalah bagaimana ketidakstabilan internal dan eksternal akibat
ketegangan dan konflik menimbulkan efek ketidakstabilan politik dan ekonomi. Pada
hakekatnya, jalinan konflik intra dan antar Negara telah menunda reformasi ekonomi
dan politik dalam negri dan juga menghambat integrasi ekonomi perdagangan
regional. Disini saya tulis sebuah penyajian tentang gambaran konflik di
wilayah tersebut dengan focus pada periode-periode ketika Negara-negara Asia
Selatan sedang membuat upaya untuk meningkatkan pengaturan perdagangan
regional. Penting juga untuk dicatat bahwa semua konflik bilateral selama
periode ini telah bersifat india-sentris, yang mencerminkan sebagian besar
aspirasi hegemonic India dan didukung oleh supremasi militer Negara ini
diwilayah itu.
India dan Pakistan
Menjelaskan hubungan antara India dan Pakistan dua Negara terbesar di kawasan
ini mewujudkan ketidakstabilan regional yang permanen. Ke-dua Negara telah
terkunci dalam konflik yang berkepanjangan baik terbuka atau terselubung. Karena
perpecahan pada tahun 1947 yang merupakan kendala terbesar untuk integrasi
ekonomi regional. Sejak permulaan tahun 1980-an ditandai dengan konflik
terselubung dibandingkan dengan konflik aktif. Setelah kalah dalam perang yang
menentukan ke India pada tahun 1971 yang mengakibatkan pemisahan Bangladesh
dari Pakistan. Namun Pakistan mengambil sikap lebih kalem dan bersedia
berkompromi tentang Kashmir yang memungkinkan kedua Negara untuk mengatasi
masalah ekonomi dan perdagangan. Dengan cara berbagai upaya diplomatic akhirnya
mendorong terbentuknya SAARC pada tahun 1985.
Namun
didalam permasalahan ini karena adanya watak dasar yang keras dengan di dorong
oleh dinamika agama dan militer dalam sejarah menyebabkan penurunan yang
signifikan dalam hubungan tersebut pada akhir 1980-an. segera setelah itu Pakistan
mulai memberikan dukungan politik dan militer kepada pemberontak. Dukungan tersebut
terus membuat kedua belah pihak berselisih sepanjang 1990-an. India terus-menerus
menyalahkan Pakistan atas kerusuhan di Kashmir dengan menuduh memberikan
pelatihan dan mengirimkan agen untuk bergabung dengan pelaku pemberontakan.
Masalah keamanan antara Pakistan dan India mencapai
puncaknya pada tahun 1998 ketika kedua belah pihak melakukan uji coba senjata
nuklir. Yang kemudian memperkenalkan dimensi yang sangat stabil dengan paradigm
keamanan. Pada tahun 1999, Pakistan dan India terlibat dalam
konfrontasibersenjata di wilayah Kargil, Kashmir. Meskipun konflik berakhir di
jalan buntu, Kargil menandai konflik pertama antara dua Negara yang memiliki
senjata nuklir dan membawa banyak orang untuk menyadari potensi bencana nuklir.
Ketegangan terjadi pada tahun 2002 ketika India meenyalahkan Pakistan karena telah
merekayasa serangan teroris pada parlemen India. Kedua belah pihak menemukan
diri mereka di tengah-tengah kebuntuan selama 10 bulan dengan mengumpulkan jutaan
tentara di perbatasan India Pakistan, suatu bentuk membuat mobilisasi militer
terbesar dalam wilayah ini. Mengingat tekanan internasional yang sangat kuat
pelucutan senjata akhirnya ercapai sebelum konflik meningkat lebih tidak
terkendali.
Ditengah
ketegangan tersebut, Pakistan dan India telah melakukan beberapa upaya untuk
memulai proses perdamaian guna menyelesaikan perselisihan diantara mereka. Inisiatif
pertama dilakukan sebelum adanya perang Kargil pada tahun 1999, ketika dimana
kedua belah pihak telah menandatangani “Deklarasi Lahore”, dan pada tahun 2001
ketika presiden Pakistan Parvez Musharraf membuat sebuah upaya yang gagal untuk
memprakarsai upaya perdamaian. Proses perdamaian merupakan upaya terbaru oleh
kedua belah pihak untuk melakukan perbaikan hubungan. Sementara upaya saat ini
telah berlangsung lebih insentif dibandingkan era sebelumnya yang tetap saja
ketegangan India-Pakistan masih tinggi. Semua berakar pada kecurigaan atara
kedua belah pihak yang tidak berubah dan masalah yang luar biasa besar yang
belum terpecahkan. Bahkan jika tawaran perdamaian saat ini tetap diupayakan,
pasti akan membutuhkan puluhan tahun sebelum Pakistan dan India mulai saling
percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar