Nama : Ainun
Nuronniyyah
NIM : 201210360311157
Jurusan/Kelas :
HI / C
Merespon
Perlambatan dan Resiko Ekonomi Global
Krisis
keuangan global yang bermula dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat
membawa implikasi pada kondisi ekonomi global secara menyeluruh. Hampir di
setiap negara, baik di kawasan Amerika, Eropa, maupun Asia Pasifik, merasakan
dampak akibat krisis keuangan global tersebut. Dampak tersebut terjadi karena
tiga permasalahan, yaitu adanya investasi langsung, investasi tidak langsung, dan
perdagangan.
Pemerintah
Indonesia optimistis akan mampu mengatasi dampak krisis keuangan dunia.
Pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen dan keberhasilan penerapan kebijakan di
bidang ekonomi yang lain serta pemberantasan korupsi diyakini sebagai fundamental
perekonomian negara yang kuat. Pemerintah
juga telah mengeluarkan tiga peraturan pemerintah pengganti undang-undang
(Perpu), yaitu: Perpu No 2/2008 berisi tentang Perubahan Kedua UU Nomor 23
Tahun 1999 tentang Perubahan atas UU tentang Bank Indonesia. Kedua, Perpu No
3/2008 berisi mengubah nilai simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan.
Dan ketiga, Perpu No 4/2008 berisi tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan
(JPSK). Ketiga peraturan darurat tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi
ancaman krisis keuangan global.
Berbagai
upaya juga telah diambil. Mulai dari pencairan anggaran belanja departemen
untuk membantu likuiditas keuangan di masyarakat, dan mengutamakan program
untuk rakyat dengan melindungi kemungkinan dampak krisis. Caranya dengan memastikan
semua program pengentasan kemiskinan tersalurkan dan meningkatkan
program-program untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dalam menghadapi krisis keuangan dan
resesi ekonomi global, memang dibutuhkan ketenangan semua pihak agar dapat
senantiasa berpikir rasional untuk mencarikan jalan dan solusi. Meskipun tidak
seluruh masalah berada di jangkauan wilayah kebijakan dan wewenang pemerintah,
partisipasi dan peran serta semua pihak dalam mengatasi dampak krisis keuangan
global mutlak dibutuhkan.
Perekonomian Indonesia pada tahun 2012 menunjukkan kinerja yang
cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan dapat
mencapai 6,3 persen dan selanjutnya ditahun 2013 diperkirakan meningkat
dikisaran 6,3 hingga 6,7 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya
permintaan domestik yang ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.
Tekanan inflasi dalam tahun 2012
dan 2013 diperkirakan masih cukup rendah yakni 4,5 plus minus satu persen.
Hingga akhir tahun 2012, nilai tukar rupiah bergerak sesuai kondisi pasar
dengan intensitas depresiasi yang menurun. Namun pada awal tahun 2013, rupiah
melemah akibat neraca perdagangan kita yang defisit. Dari sisi kinerja perbankan hingga Desember 2012 tetap terjaga
dengan penyaluran kredit yang cukup tinggi, seiring tren perkembangan ekonomi
yang terus meningkat. Per oktober 2012, kredit tumbuh 22,40% dari Rp 2.028,14
triliun per Oktober 2011 menjadi Rp 2.482,52 triliun per Oktober 2012.
Pertumbuhan itu mengangkat rasio antara kredit dan DPK (loan to deposit ratio/LDR) dari 81,03% per Oktober 2011 menjadi 83,78% per Oktober 2012. Dengan demikian LDR perbankan nasional sudah melewati LDR minimal 78% sebagaimana disyaratkan Bank Indonesia untuk menggeber kinerja kredit pada kisaran LDR 78-100%. Dengan LDR minimal 78% berarti ketika suatu bank dapat menghimpun DPK Rp 100 triliun, bank tersebut wajib menyalurkan kredit minimal Rp 78 triliun.
Pertumbuhan itu mengangkat rasio antara kredit dan DPK (loan to deposit ratio/LDR) dari 81,03% per Oktober 2011 menjadi 83,78% per Oktober 2012. Dengan demikian LDR perbankan nasional sudah melewati LDR minimal 78% sebagaimana disyaratkan Bank Indonesia untuk menggeber kinerja kredit pada kisaran LDR 78-100%. Dengan LDR minimal 78% berarti ketika suatu bank dapat menghimpun DPK Rp 100 triliun, bank tersebut wajib menyalurkan kredit minimal Rp 78 triliun.
Rasio kecukupan modal (CAR/Capital
Adequacy Ratio) berada jauh di atas minimum 8% dan terjaganya rasio kredit
bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Dengan kondisi
perekonomian yang terus tumbuh, terutama konsumsi domestik yang kuat,
menyebabkan adanya kegiatan ekonomi sehingga perbankan Indonesia masih memiliki
ruang untuk memperkuat laju pertumbuhan kinerjanya. Meski demikian, kinerja
perbankan nasional masih beroperasi dalam kondisi yang tidak efisien dimana
besaran rasio net interest margin selalu berada diatas 5% yang merupakan angka
tertinggi di kawasan Asia. Hal ini menyebabkan sektor perbankan belum optimal
berperan sebagai agent of growth bagi perekonomian nasional. Dengan kondisi fundamental yang cukup baik
ini, ketahanan ekonomi ditahun 2013 diperkirakan masih cukup kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar