Jumat, 14 Maret 2014

Konflik yang terjadi di Kawasan Asia Selatan

Seperti yang kita ketahui bahwa Asia Selatan merupakan wilayah yang rawan terhadap konflik ketegangan politik. Dan India sebagai Negara terbesar dengan secara geografis telah berpengaruh mengembangkan perbedaan dengan sebagian besar Negara tetangganya yang lebih kecil. Ketegangan-ketegangan cenderung muncul kembali secara periodic dan tidak mengijinkan suasana saling percaya didalamnya. Dengan adanya ketegangan ini, sebuah laporan Uni Eropa menyimpulkan bahwa tingkat resiko politik dalam konteks investasi perdagangan di Asia Selatan termasuk tinggi. Dan dengan adanya laporan ini hanya menampilkan dua anggota SAARC (South Asia Agrement Regional Cooperation) dengan resiko politik terkecil. Yaitu Maladewa dan Bhutan. Negara-negara lain dianggap rapuh, dengan nilai rata-rata stabilitas jauh di bawah rata-rata global.
Aspek-aspek yang perlu dicatat adalah bagaimana ketidakstabilan internal dan eksternal akibat ketegangan dan konflik menimbulkan efek ketidakstabilan politik dan ekonomi. Pada hakekatnya, jalinan konflik intra dan antar Negara telah menunda reformasi ekonomi dan politik dalam negri dan juga menghambat integrasi ekonomi perdagangan regional. Disini saya tulis sebuah penyajian tentang gambaran konflik di wilayah tersebut dengan focus pada periode-periode ketika Negara-negara Asia Selatan sedang membuat upaya untuk meningkatkan pengaturan perdagangan regional. Penting juga untuk dicatat bahwa semua konflik bilateral selama periode ini telah bersifat india-sentris, yang mencerminkan sebagian besar aspirasi hegemonic India dan didukung oleh supremasi militer Negara ini diwilayah itu.

India dan Pakistan
          Menjelaskan hubungan antara India  dan Pakistan dua Negara terbesar di kawasan ini mewujudkan ketidakstabilan regional yang permanen. Ke-dua Negara telah terkunci dalam konflik yang berkepanjangan baik terbuka atau terselubung. Karena perpecahan pada tahun 1947 yang merupakan kendala terbesar untuk integrasi ekonomi regional. Sejak permulaan tahun 1980-an ditandai dengan konflik terselubung dibandingkan dengan konflik aktif. Setelah kalah dalam perang yang menentukan ke India pada tahun 1971 yang mengakibatkan pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Namun Pakistan mengambil sikap lebih kalem dan bersedia berkompromi tentang Kashmir yang memungkinkan kedua Negara untuk mengatasi masalah ekonomi dan perdagangan. Dengan cara berbagai upaya diplomatic akhirnya mendorong terbentuknya SAARC pada tahun 1985.
Namun didalam permasalahan ini karena adanya watak dasar yang keras dengan di dorong oleh dinamika agama dan militer dalam sejarah menyebabkan penurunan yang signifikan dalam hubungan tersebut pada akhir 1980-an. segera setelah itu Pakistan mulai memberikan dukungan politik dan militer kepada pemberontak. Dukungan tersebut terus membuat kedua belah pihak berselisih sepanjang 1990-an. India terus-menerus menyalahkan Pakistan atas kerusuhan di Kashmir dengan menuduh memberikan pelatihan dan mengirimkan agen untuk bergabung dengan pelaku pemberontakan.
          Masalah keamanan antara Pakistan dan India mencapai puncaknya pada tahun 1998 ketika kedua belah pihak melakukan uji coba senjata nuklir. Yang kemudian memperkenalkan dimensi yang sangat stabil dengan paradigm keamanan. Pada tahun 1999, Pakistan dan India terlibat dalam konfrontasibersenjata di wilayah Kargil, Kashmir. Meskipun konflik berakhir di jalan buntu, Kargil menandai konflik pertama antara dua Negara yang memiliki senjata nuklir dan membawa banyak orang untuk menyadari potensi bencana nuklir. Ketegangan terjadi pada tahun 2002 ketika India meenyalahkan Pakistan karena telah merekayasa serangan teroris pada parlemen India. Kedua belah pihak menemukan diri mereka di tengah-tengah kebuntuan selama 10 bulan dengan mengumpulkan.. #bersambung :'(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar